Membahas, dan Mereview Seluruh Film

Saturday, October 28, 2017

Review film United (2011): For The Busby Babes !!!

Masih ingat kejadian akhir tahun kemarin ? “Leicester City” dari Brasil, Chapecoense, mengalami tragedi buruk. Kecelakaan pesawat yang mengakibatkan 71 orang meninggal dari sekitar 80an orang yang mengudara dari Brasil menuju Kolombia untuk pertandingan 8 besar Copa Sudamericana melawan tim Junior Barranquilla. Ya, Chapecoense “mengikuti” jejak dari para pendahulunya yaitu Torino (1949), Alianza Lima (1987), Zambia (1993) dan Manchester United (1958).

Ya, nama klub terakhir juga sempat mengguncang dunia karena tragedi Munich. Dengan niat awal ingin berlaga melawan tim Yugoslavia dalam piala Eropa, setelah meraih kemenangan lewat agregat, kepulangan mereka harus dibayar dengan sangat mahal. The Busby Babes, penamaan bagi pemuda-pemuda Manchester asuhan Sir Matt Busby, kehilangan banyak anggotanya. Menyisakan Golden Boy saat itu, Sir Bobby Charlton, Manchester United dipaksa untuk berjuang melawan ketatnya jadwal pertandingan yang mereka ikuti.

Film ini diangkat dari kisah nyata tragedi Manchester United 1958. Meskipun begitu, kita sebagai penonton yang jeli, disuguhkan beberapa fakta yang terjadi dalam dunia sepak bola pada waktu itu. Salah satu yang sangat saya ingat dalam film ini adalah, tidak seperti sekarang, pemain sepak bola pada waktu itu masih bisa menghisap pipa tembakau saat di dressing room bahkan ketika mereka berdiri di lorong untuk bersiap masuk lapangan pertandingan. Sebuah fakta yang menarik jika kita mau mengaitkan penelitian akhir-akhir ini tentang tembakau (rokok) dan olah raga. Atlit sepak bola sekarang, mana bisa tuh menghisap asap rokok sebelum pertandingan dengan alasan kesehatan. Padahal, pada awalnya rokok selama masa perang dunia digunakan untuk pengobatan yang berkaitan dengan penyakit pernapasan.

Oke, saya disini bukan untuk mengkritisi pergeseran fungsi rokok. Kembali ke film United. Film yang memulai premiernya cukup lama (2011), mampu menceritakan kejadian yang nyaris sempurna tentang tragedi Munich. Ber-setting pada masa pasca perang dunia, bertemapat di Munich Jerman dan Manchester Inggris, film ini menggambarkan keadaan dua kota tersebut dengan sangat pas. Meskipun banyak kritik untuk film ini, salah satunya dari keluarga korban yang merasa tidak dihubungi pihak film, tapi kenyataannya film ini cukup memberikan warna bagi film-film bertemakan Documentary juga Sport. Tidak hanya berisi scene sekelompok pesepak bola yang sedang berlatih, kehidupan sehari-hari mereka pun sangat di sorot. Contoh kecil, dengan melihat film ini, penggemar sepak bola akan tahu bagaimana keadaan dressing room tim kesayangan sebelum pertandingan dimulai. Atau, penggemar sepak bola akan tahu bagaimana kehidupan pemain sepak bola diluar lapangan pada waktu itu.





Manchester United memang klub sepak bola yang besar didunia ini. Namun, kecelakaan tidak pernah pilih-pilih korban bukan ? Maka dari itu, untuk penggemar Manchester United layar kaca, apalagi orang Indonesia, saya sangat menyarankan untuk menonton film ini. Untuk menghindari stigma fans karbitan atau fans bau kencur, penting juga kan mengetahui sejarah tim kesayangan. Lagi pula, rating IMDb untuk film ini ngga jelek-jelek amat. Dengan rating 7,5 cukup memberikan gambaran bahwa film ini termasuk salah satu film yang baik, dari segi cerita maupun sinematografinya.

Anyway, Happy Saturday Night. Selamat nonton bola. Dan sedikit info, saya baru saja selesai nonton pertandingan MU vs Tottenham. MU Menang dengan skor tipis 1-0. Meskipun saya bukan salah satu dari fans Manchester United, melihat permainan mereka dulu dan sekarang masih tetap menghibur kok.

Glory-glory Man United !!!

No comments:

Post a Comment