Membahas, dan Mereview Seluruh Film

Monday, October 30, 2017

Review film: Satan's Slave


“Bu, Ibu sudah bisa berdiri ? Ibu sudah sehat ?” dan jeng jeng jeng, para penonton seketika ada yang nutup mata, banyak yang teriak, bahkan ada yang nangis. Padahal masih scene-scene awal loh itu. Selamat bertegang-tegangan sepanjang kurang lebih 2 jam didalam bioskop.

Ini adalah salah satu film horor yang akan jadi film horor favorit saya setelah Film Pocong dan Jelangkung. Bukan bermaksud mendiskreditkan film horor lainnya, tapi tiga film ini adalah film horor yang sangat horor pokoknya. Tidak ada embel-embel eksploitasi wanita di sana, tidak ada scene-scene wanita seksi. Saya memang rada sinis sih sama film yang judul dan isi filmnya berbeda. Anyway, film ini masuk 13 kategori award dalam FFI loh. Congratulations Joko Anwar !!! keep making good movies yah.

Satan's slave (Pengabdi setan) adalah project reboot dari film tahun 80an dengan judul yang sama. Saya akan dikoreksi jika menuliskannya dengan istilah remake, karena remake dan reboot itu sangat beda kawan-kawan. Dikemas dengan sangat baik, tidak ada embel-embel gimmick dalam promosi film, ditambah pemerannya yang oke punya, film ini sukses mencuri animo penikmat horor Indonesia. Najwa Shihab saja sampe nonton kok, jadi film ini sangat recomended.

Terakhir saya lihat kemarin film ini masih diputar di CGV Hartono Mall Jogja. so buat yang belum nonton, sila secepatnya nonton, sebelum ibu dan kawan-kawan bermigrasi ke Australia. Yap, betul film ini akan diputar dibioskop luar Indonesia. Dan sekali lagi, congratulations Joko Anwar. Ini adalah sebuah prestasi dari anak bangsa yang membanggakan. Semoga filmnya yang ini bisa menyamai pencapaian A copy of my mind bahkan melewatinya.

Balik lagi tentang film, penggarapan film ini berkolaborasi dengan studio film asal korea selatan. Meskipun begitu, menurut Joko Anwar sendiri, untuk pengerjaannya dia tidak menggunakan teknik CGI seperti pada scene bapak menyelamatkan anaknya di Sumur tua. Padahal scene itu harus diambil subuh loh, dengan lokasi di Pangalengan Bandung, kebayang kan betapa dinginnya proses pengambilan gambar scene itu ?

Aktris utama dalam film ini yang memerankan Ibu Mawarni ditengarai memang seorang penggiat seni dari bali. Jadi tidak heran jika akting beliau sangat memukau. Dengan cita-cita ingin menjadikan film ini sebagai film horor keluarga, saya rasa Joko Anwar sangat sukses menyampaikannya ke penonton. Sensasi yang didapatkan setelah nonton film ini bagi saya adalah bersyukur. Bersyukur karena ternyata selain film indie, masih ada film Indonesia yang berkualitas. Banyak orang bilang, mereka ngga bosen nonton film ini lagi dan lagi. Tapi untuk saya, cukup lah nonton cuplikan-cuplikannya, di bioskop saja saya dipaksa untuk senam jantung. Tapi overall ini film 2017 asal Indonesia yang paling keren menurut saya. Oleh karena itu, mumpung belum migrasi ini, ayok lah tonton filmnya, nyesel loh kalo ngga nonton. Siapa tahu setelah nonton pasangan anda akan semakin merasa sayang dan kagum dengan Anda. Dengan catatan, be brave ya pas nonton. Biar keliatan lakik gitu loh.

Dan satu lagi, buat para laki-laki saya sarankan untuk tetap perhatiin Tara Basro. She Stole my attention.

Two Thumbs for this Movie.

No comments:

Post a Comment